Monday, June 28, 2021
Sunday, June 20, 2021
Saturday, November 28, 2020
My Dog, 18 years togerher
Sep, 19 2020
Ketika menjalang malam hari jam 11 an. Doggie saya yang bernama Rikcy mengalami sesak nafas karena asma. Asmanya sangat berbeda dari biasanya sangat berat. Dia sangat menderita. Lalu Ricky diberikan obat tapi dia tidak mau. Air mata saya sudah mengalir sepertinya gukguk kesayangan saya akan meninggalkan saya, sama seperti papi saya (Aug, 29 2020).
Ricky adalah anjing berjenis pomerian. Umur Ricky sudah 18 tahun (2002-2020). Masih teringat rasanya ketika Ricky lahir dari induknya yang bernama Kwai-kwai. Saya membantu proses melahirkan sampai memotong tali pusar ketika Ricky masih bayi. Masih teringat ketika Ricky kalau tidur di ranjang dia tidur di atas kepala saya. Sehingga saya harus menurunkan kepala saya ke bawah agar Ricky bisa tidur.
Pada bulan November 2019, dokter sudah berkata bahwa Ricky itu punya asma akut. Mengingat umur Ricky yang sudah tua, dokter tidak mau memberikan apa2 krena takut kena Ricky punya ginjal dan dokter bilang Ricky bisa ... kapan saja jadi biarkan Ricky bahagia.
Di saat itu pada saat itu saya berulang tahun, Ricky mau memberikan kenangan terindah untuk saya. Dia tidak pernah rewel atau sakit sellama bulan Desember 2019 - September 2020 dia tidak pernah sakit, seperti sesak nafas dll. Bahkan tergolong lincah. Tapi ketika malam itu dia sudah sesak nafas, saya sudah melihat bahwa doggie saya akan pergi meninggalkan saya. Ricky sudah tidak mau minum obat, bahkan ketika saya menangis dia tidak mau melihat saya, tapi melihat ke jendela seakan berkata dia akan pergi. Ketika memasuki jam 12 malam (Sun, Sep 20, 2020) Ricky sudah tidak sesak nafas lai. Bahkan sangat tenang seperti bias. Dan saya ingin menonton tv, tapi Ricky minta saya untuk tidur. Dan akhirnya saya tidur seperti biasa Ricky tidur disebelah saya. Sekitar jam 12.20am (Sep 20) seakan saya bermimpi dan mendengar suara yang berkata saya pegi dulu. Langsung saya terbangun dan melihat Ricky sudah tidak bernafas.
2020, adalah tahun dimana saya kehilangan papi saya dan doggie saya yang saya kasihi.
Thursday, October 8, 2020
Pemberian Terindah
Diberikan Allah dengan senang hati.
Meskipun pemberian terindah-Nya itu tak ternilai, dan ditujukan untuk menjawab kebutuhan dan kebahagiaan kita, banyak yang berpikir bahwa pemberian itu tampaknya mustahil untuk menjadi kenyataan.
Disebutkan dalam Alkitab.
Alkitab menyebut tentang suatu pemberian terindah yang penuh misteri dan nilainya jauh melebihi apa pun yang pernah kita terima. Ketika pemberian itu diterima, kita pun memperoleh damai sejahtera, penerimaan, pengampunan, dan pengangkatan sebagai anak dalam keluarga Allah, serta hidup yang kekal. Namun, apakah pemberian Allah yang memenuhi keinginan hati kita itu adalah upah karena kita telah menjalani hidup yang baik? Tidak demikian, menurut Alkitab. Pemberian yang dimaksud adalah keselamatan jiwa dan disebut “karunia Allah” (Roma 6:23; Efesus 2:8-9).
Tak bisa diusahakan sendiri.
Dalam sebagian besar bidang hidup ini, kita bekerja keras untuk memperoleh rasa hormat, kepercayaan, dan kenaikan pangkat. Namun, tidak demikian dengan keselamatan yang diberikan oleh Allah. Keselamatan tidak berasal dari balas jasa, tetapi dari belas kasihan; tidak dengan upaya, tetapi dengan percaya; dan tidak diperoleh dengan usaha sendiri, tetapi dengan menerimanya.
Paulus berkata ``Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Dalam suratnya yang lain dalam Perjanjian Baru, Paulus menambahkan, “Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya” (Titus 3:5).
Dibayar lunas oleh Allah.
Jauh sebelum orang-orang majus datang membawa pemberian mereka ke Betlehem, Allah Pencipta telah memberi kita karunia untuk memilih. Dia tahu bahwa kasih yang bermakna harus disertai kerelaan, jadi Dia memberi kita kebebasan untuk menerima atau menolak-Nya.
Namun dari semula, Adam dan Hawa memilih untuk meninggalkanNya. Alih-alih membiarkan manusia hidup dalam pemberontakan, Allah justru menyatakan sebuah rencana penyelamatan dimana pribadi yang tidak bersalah akan mati berkorban demi pihak yang bersalah. Suatu tata cara ibadah yang terperinci dan simbolis di Bait Suci menjadi bayangan dari apa yang kelak dilakukan Allah bagi kita dalam peristiwa utama dari sejarah umat manusia. Pada waktu yang ditentukan-Nya sendiri, dalam peristiwa yang luar biasa dan berdampak kekal, Allah melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan karena kasih—Dia mengorbankan Anak-Nya untuk menebus kita dari dosa (Yohanes 1:29; Ibrani 10:5-10)
Dibuktikan dengan tindakan.
Fakta sejarah adalah bukti dari penebusan yang telah dilakukanNya. Para nabi di Israel telah menubuatkan seorang Mesias yang akan membebaskan umat-Nya dari dosa mereka (Yesaya 53; Daniel 9:26). Ketika Mesias datang, para penulis Injil memberitahukan kepada kita bahwa Dia menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, dan memberikan harapan kepada yang tertindas. Lalu Dia melakukan yang tidak disangka-sangka oleh siapa pun. Dia tidak memanfaatkan dukungan orang banyak yang memuja-Nya untuk merebut kekuasaan, melainkan dengan diam membisu Dia menanggung hujatan musuh, dan rela mati dihukum oleh para tentara Romawi. Tiga hari kemudian, Dia bangkit dan melangkah keluar dari kubur yang dijaga ketat (Lukas 24:1-7). Para saksi mata dari Kristus yang telah bangkit ini lebih memilih mati di tangan para musuh daripada menyangkali fakta bahwa mereka telah bertemu Dia yang telah hidup kembali.
Dikemas dengan cermat.
Allah mengemas pemberian terindah-Nya sepanjang ribuan tahun lewat setiap nubuat yang digenapi, mukjizat yang disaksikan banyak orang, dan penyelamatan yang mengagumkan. Setelah dinantikan berabad-abad lamanya, Sang Penguasa surga mengunjungi seorang gadis muda Yahudi bernama Maria dan, yang terajaib dari semuanya, hadir di dalam rahimnya. Semasa hidup-Nya, Dia besar di tengah keadaan yang sederhana, dikasihi para pengikut yang biasa-biasa saja, dibenci para pemimpin agama, dan dibunuh secara mengenaskan. Saat sepertinya tiada lagi harapan, Allah mengemas pemberian-Nya itu lewat berita sukacita dari para saksi tentang kebangkitanNya yang tak terduga dari kematian. Sebagai puncaknya, Sang Pencipta menghias anugerah keselamatan dariNya dengan keragaman yang indah, yakni orang-orang dari segala bangsa di dunia yang hati dan hidupnya telah diubahkan oleh kasih-Nya (Wahyu 5:9).
Diberikan Allah karena kasih karunia.
Bagi mereka yang menerima anugerah pemberian Allah, Rasul Paulus menulis, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Paulus pernah berusaha menyenangkan hati Allah dengan caranya sendiri (Filipi 3:3-9). Sekarang ia ingin para pembacanya mengetahui apa yang telah diketahuinya sendiri—bahwa hanya karena kasih karunia Allah, para malaikat di surga akan menyambut manusia yang telah memberontak dan hancur oleh dosa untuk masuk ke dalam keluarga dan hadirat Allah yang kekal. Dalam suratnya yang lain, Paulus menggambarkan perbedaan antara Adam, yang menyebarkan dosa dan kematian pada seluruh keturunannya, dan Kristus, yang membawa kasih karunia dan hidup bagi semua yang percaya kepadaNya. Ia menulis, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia- Nya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Roma 5:15).
Hanya dapat diterima dengan iman.
Dengan kata-kata yang dipilihnya dengan cermat, Paulus berkata kepada jemaat di Efesus, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.” Dalam frasa yang mengandung syarat ini, ia mengingatkan kita bahwa Allah datang hanya kepada mereka yang mengundang-Nya. Allah yang menginginkan kita mengalami kebahagiaan dalam keluarga-Nya yang kekal itu sedang mengetuk pintu hati kita dengan lembut dan menunggu kita untuk menyambutNya masuk ke dalam hidup kita (Yohanes 1:12). Demikianlah dikatakan dalam Injil, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
Tersedia bagi siapa saja yang mau menerimanya.
Kebanyakan sahabat Yesus adalah para nelayan, bukan cendekiawan. Ada yang pernah menjadi pemungut cukai, yang lain seorang pejuang politik yang menggebugebu, dan ada juga yang pernah dirasuk setan. Yang menyatukan mereka adalah kesediaan untuk menerima pemberian Allah. Merekalah orang-orang yang dirindukan Yesus untuk dibawa kepada Bapa-Nya. Bahkan pada saat-saat terakhir hidup-Nya, ketika Dia tergantung di kayu salib di antara dua penjahat, Yesus memberikan anugerah hidup kekal. Salah satu dari penjahat itu mencemooh-Nya dan berkata, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Namun, penjahat yang seorang lagi menegurnya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Hanya karena keselamatan adalah kasih karunia, Yesus dapat berkata kepadanya, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:39-43)
Membangkitkan ucapan syukur.
Orang yang tidak bersedia meminta tolong sering berbangga diri karena merasa tidak pernah berutang kepada siapa pun. Namun, mereka yang rela mengakui kehausan rohaninya akan menemukan sesuatu yang lebih bermakna daripada merasa mampu berdiri sendiri. Merekalah orangorang yang mengucap syukur karena tahu bahwa mereka berutang nyawa kepada orang lain. Orang yang telah diselamatkan dari mobil atau gedung yang terbakar oleh petugas pemadam kebakaran atau seorang pemberani akan tahu apa artinya menjalani sisa hidup mereka dengan perasaan syukur yang mendalam. Demikian juga orang yang tahu bahwa diri mereka telah diselamatkan oleh kasih karunia Allah dari penghukuman akan mempunyai alasan untuk menjalani sisa hidup mereka dengan ucapan syukur yang berlimpah kepada-Nya (Efesus 2:10). Tiada hal lain yang lebih membahagiakan kita atau membangkitkan kasih dalam hati kita daripada kesadaran yang besar bahwa segala sesuatu yang sungguh kita butuhkan telah dianugerahkan oleh Allah lewat pemberian-Nya yang terindah.Anda tidak sendiri.
Jika masih ragu-ragu untuk membuka hati dan menerima anugerah keselamatan dari Allah. Banyak yang berpikir bahwa pemberian tersebut sungguh mustahil untuk menjadi kenyataan. Banyak juga yang takut bahwa mereka akan terikat dengan utang ucapan syukur dan kasih kepada Allah untuk selama-lamanya. Bagaimanapun, keputusan untuk menerima anugerah keselamatan itu ada di tangan Anda. Yohanes menulis, “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:11-12). Bila Anda siap menerima pemberian yang terindah ini, keterbukaan hati Andalah yang dikehendaki Allah. Anda dapat berdoa dengan menggunakan kata-kata Anda sendiri, atau mengungkapkan doa sebagai berikut: “Allah di surga, aku tahu aku telah berdosa terhadap-Mu. Aku percaya Kristus adalah Anak-Mu dan Juruselamatku. Aku percaya Dia telah mati untuk membayar hukuman atas dosa-dosaku dan bangkit dari kematian untuk membuktikan apa yang dijanjikan-Nya. Sekarang, aku mau mempercayai-Nya, dan menerima pengampunan, hidup baru, dan hidup kekal di surga yang selama ini kurindukan. Dalam nama Yesus, aku bersyukur kepada-Mu. Amin.”
The 40 days,
Aug 29 2020 - Oct 8 2020
Source :
https://santapanrohani.org/resources/pemberian-terindah/
Monday, September 28, 2020
Life as a Vapor
Life as a Vapor
Living knowing that your life is a vapor is different than just living. Things here are passing away. You’ve got to hold on to what will stand. Savor what matters. The Scripture cuts, Christ is exalted in God, and we worship Him.
Life Is Short. Eternity Is Long. Live Like It.
You will exist forever. You and God are both in the universe to stay—either as friends on His terms, or enemies on yours—which it will be is proven in this life. And this life is a vapor. Two seconds, and we will be gone.
Time is precious. We are fragile. Life is short. Eternity is long. Every minute counts. Oh, to be a faithful steward of the breath God has given me. Three texts resound in my ears: “Redeem the time” (Ephesians 5:16 ); “It is required of stewards that one be found trustworthy” (1 Corinthians 4:2); “His grace toward me was not in vain; but I labored even more than all of them, yet not I, but the grace of God with me” (1 Corinthians 15:10 ).
Surely God means for our minutes on earth to count for something significant. Paul said, “In the day of Christ I will have reason to glory because I did not run in vain nor toil in vain” (Philippians 2:16). In the same way, I have good hope from the Lord that my “labor is not in vain in the Lord” (1 Corinthians 15:58).
Source :
https://www.desiringgod.org/books/life-as-a-vapor
“Jesus Christ came into this world – this fleeting, fallen, fickle world – and did the greatest thing that will ever be done”
Saturday, September 19, 2020
In Focus \ Melihat dengan Fokus
In Focus
2 Corinthians 11:16–33
By faith in the name of Jesus, this man whom you see and know was made strong.
Author Mark Twain suggested that whatever we look at in life—and how we see it—can influence our next steps, even our destiny. As Twain said, “You can’t depend on your eyes when your imagination is out of focus.”
Peter too spoke of vision when he replied to a lame beggar, a man whom he and John encountered at the busy temple gate called Beautiful (Acts 3:2). As the man asked them for money, Peter and John looked directly at the man. “Then Peter said, ‘Look at us!’ ” (v. 4).
Why did he say that? As Christ’s ambassador, Peter likely wanted the beggar to stop looking at his own limitations—yes, even to stop looking at his need for money. As he looked at the apostles, he would see the reality of having faith in God.
As Peter told him, “Silver or gold I do not have, but what I do have I give you. In the name of Jesus Christ of Nazareth, walk” (v. 6). Then Peter “helped him up, and instantly the man’s feet and ankles became strong. He jumped to his feet and began to walk” and give praise (vv. 7–8).
What happened? The man had faith in God (v. 16). As evangelist Charles Spurgeon urged, “Keep your eye simply on Him.” When we do, we don’t see obstacles. We see God, the One who makes our way clear.
By: Patricia Raybon
https://odb.org/2020/09/19/in-focus
Melihat dengan Fokus
Karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini. –Kisah Para Rasul 3:16
Penulis ternama Mark Twain pernah menyatakan bahwa apa pun yang kita lihat dalam hidup ini—dan cara kita melihatnya—akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan tujuan akhir kita. Menurut Twain, “Anda tidak bisa bergantung pada penglihatan ketika imajinasi Anda tidak fokus.”
Rasul Petrus juga berbicara tentang penglihatan ketika ia menjawab permintaan seorang pengemis lumpuh yang dijumpainya bersama Yohanes di dekat pintu gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah (Kis. 3:2). Ketika pengemis itu minta sedekah, Petrus dan Yohanes menatapnya. “Petrus berkata: ‘Lihatlah kepada kami’” (ay.4).
Mengapa Petrus mengatakan itu? Kemungkinan, sebagai rasul Kristus, Petrus ingin pengemis itu berhenti melihat keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri—bahkan berhenti melihat kebutuhannya akan uang. Dengan mata yang terarah kepada kedua rasul itu, si pengemis akan melihat realitas kebutuhannya untuk beriman kepada Allah.
Petrus lalu berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (ay.6). Lalu Petrus “memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari” (ay.7-8).
Apa yang terjadi? Orang itu percaya kepada Allah (ay.16). Ini seperti yang dinasihatkan pengkhotbah Charles Spurgeon, “Arahkanlah matamu hanya kepada Dia.” Dengan begitu, kita tidak akan melihat rintangan-rintangan yang menghadang. Yang kita lihat hanyalah Allah, Pribadi yang akan membersihkan segala rintangan itu dari jalan kita.
Tuesday, August 18, 2020
12 Laws of KARMA
Karma is a somewhat abstract concept for many of us. There is a lot of confusing information on this non-religious topic – information that is unnecessary. So, we think it’d be helpful to paint a bit of a picture to help solidify the concept of karma. To do so, just a quick example is necessary.
“A man is but the product of his thoughts. What he thinks, he becomes.”
NOW THAT WE’VE ESTABLISHED A BASIC UNDERSTANDING OF KARMA, LET’S TAKE A LOOK AT 12 KARMIC LAWS THAT CAN CHANGE YOUR LIFE.
1. THE GREAT LAW: “AS YOU SOW, SO SHALL YOU REAP.”
The simple explanation of the Great Law is: our thoughts and actions have consequences – good or bad. If we desire peace, love, harmony, prosperity, etc. we must be willing to act accordingly.
This is also known as the “Law of Cause and Effect.” Also, energy (thought, action) that we put into the world has a consequence, immediate or not.
2. THE LAW OF CREATION: “WHAT WE DESIRE COMES THROUGH PARTICIPATION.”
The life we see around us was created by a person’s intentions. As we are one with the Universe, our intentions determine the evolution of creation. Since what we surround ourselves with becomes part of us, it’s our responsibility to ensure these surroundings are conducive to our desires.
3. THE LAW OF HUMILITY: “REFUSAL TO ACCEPT WHAT IS WILL STILL BE WHAT IS.”
Acceptance is a near-universal virtue in many belief systems. Simply put, we must first accept the present circumstances in order to change them.
In focusing on the negative instead of making changes to address the negative, we’re committing to a zero-sum result.
4. THE LAW OF GROWTH: “OUR OWN GROWTH IS ABOVE ANY CIRCUMSTANCE.”
The only thing we have control over is ourselves. The subsequent action (or inaction) of motive will yield either positive or negative circumstances in our lives.
True change only occurs if we make the commitment to change what is in our hearts.
5. THE LAW OF RESPONSIBILITY: “OUR LIVES ARE OF OUR OWN DOING, NOTHING ELSE.”
When there is turbulence in one’s own life, there is often turbulence internally. If we’re to change our life, we must change our frame of mind and surroundings.
6. KARMA’S LAW OF CONNECTION: “EVERYTHING IN THE UNIVERSE IS CONNECTED, BOTH LARGE AND SMALL.”
Our past, present, and future are all connected. As such, we must put in the work to change these connections if we desire something different.
No step – first, intermediate or last – is more important in the accomplishment of a task. All are required.
7. THE LAW OF FOCUS: “ONE CANNOT DIRECT ATTENTION BEYOND A SINGLE TASK.”
Relating to our spiritual growth, we cannot have negative thoughts or actions and expect to grow spiritually. We must direct full attention to achieve any desired task.
8. THE LAW OF HOSPITALITY AND GIVING: “DEMONSTRATING OUR SELFLESSNESS SHOWS TRUE INTENTIONS.”
Put simply: what we claim to believe must manifest into our actions. Selflessness is a virtue only if we’re accommodating something other than ourselves.
Without a selfless nature, true spiritual growth is nearly impossible.
9. KARMA’S LAW OF CHANGE: “HISTORY REPEATS ITSELF UNLESS CHANGED.”
Conscious commitment to change is the only method of influencing the past. History will continue along an unconstructive path until positive energies direct it elsewhere.
10. THE LAW OF HERE AND NOW: “THE PRESENT IS ALL WE HAVE.”
Looking back regretfully and forward pointlessly robs oneself of a present opportunity. Old thoughts and patterns of behavior negate the present chance to advance ourselves.
11. THE LAW OF PATIENCE AND REWARD: “NOTHING OF VALUE IS CREATED WITHOUT A PATIENT MINDSET.”
Toiling away cannot be circumvented through wishful thinking. Our rewards are claimed only through patience and persistence, nothing else.
Rewards are not the end result. True, lasting joy comes from the knowledge of doing what’s necessary in the rightful anticipation of a reward that is well-earned.
12. THE LAW OF SIGNIFICANCE AND INSPIRATION: “THE BEST REWARD IS ONE THAT CONTRIBUTES TO THE WHOLE.”
The end result is of little value if it leaves little or nothing behind.
Energy and intentions are vital components that determine the significance of an end-result. Ideally, love and passion embody the motives of one that resolves to leave a lasting impression on the Whole.
FINAL THOUGHTS ON FOLLOWING THE LAWS OF KARMA
The Laws of Karma sound complicated. But the principle is achievable. And, it’s all advice you have heard before. Treat others with kindness, as you’d like in return. Follow your moral compass without fail. And live your truth.
Source :
Kaya tapi Miskin Hati
Ciri-ciri orang Kristen yang suam-suam kuku: Lebih mengandalkan harta dan kenyamanan dunia daripada Tuhan. Hidup dalam kepuasan diri, mer...
-
Day 19 – LOVE IS IMPOSSIBLE Let us love one another, for love is from God; and everyone who loves is born of God and knows God. 1 John...
-
Source : Matthew 13:1-23, Mark 4:1-20 The kinds of Soil The Characteristic of each soil Th...
-
Ciri-ciri orang Kristen yang suam-suam kuku: Lebih mengandalkan harta dan kenyamanan dunia daripada Tuhan. Hidup dalam kepuasan diri, mer...




