Monday, June 1, 2026

Kaya tapi Miskin Hati

 


Ciri-ciri orang Kristen yang suam-suam kuku:

  • Lebih mengandalkan harta dan kenyamanan dunia daripada Tuhan.
  •  Hidup dalam kepuasan diri, merasa tidak butuh pertolongan Tuhan.
  • Berkompromi dengan dunia, tidak memiliki komitmen penuh kepada Kristus.
  • Tidak berbuah dalam kehidupan rohani, hanya mengikuti kebiasaan agamawi tanpa hubungan yang hidup dengan Tuhan.

Yesus berkata bahwa orang kaya itu kurang beruntung secara rohani (Mat. 19:23-24). Masalahnya tentu saja bukan karena Allah tidak mengasihi orang kaya. Mereka punya banyak hal lain untuk dicintai. Siapa yang butuh Allah ketika kita punya segalanya? Itu sebabnya Yesus tidak berkata, “Kamu tidak seharusnya mengabdi kepada Allah dan Mamon,” tapi “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon” (Mat. 6:24). Mengapa? Sama seperti seorang wanita tidak dapat mempunyai dua suami. 

Saat kita mencintai dunia ini, kita jatuh ke dalam perzinahan rohani – Randy Alcorn

1 Timotius 6:17-19 “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.”

Ayat ini menyatakan kebenaran bagi kita

✅ Jangan tinggi hati dan sombong karena kekayaan duniawi.
✅ Jangan berharap pada harta yang tidak bisa memberi jaminan kekal.
✅ Gunakan kekayaan untuk berbuat baik dan berbagi dengan sesama.
✅ Investasikan hidup dalam hal-hal rohani yang bernilai kekal.

Tom Conway berkata:
“Saya menikmati kepuasan yang sejati dengan berinvestasi dalam kerajaan Allah. Di sanalah saya akan hidup selamanya dan saya ingin menolong sebanyak mungkin orang supaya bisa masuk ke sana. Anda tidak akan pernah salah berinvestasi dalam pekerjaan Tuhan. Berbagi kepunyaan kita dalam cara yang menghasilkan buah kekekalan adalah sukacita yang sejati.”

Hari ini, mari kita mengevaluasi diri dan memilih untuk menjadi kaya dalam kebajikan, bukan hanya dalam harta dunia.

Kekayaan sejati bukan diukur dari jumlah harta, tetapi dari hubungan kita dengan Tuhan dan dampak yang kita berikan bagi sesama.


Source :

https://elohim.id/kaya-tapi-miskin/

Sunday, March 22, 2026

Home & House




Home & House 
 Oleh: Jafar Thamrin

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:24-25)

Bagi sebagian orang yang telah belajar bahasa Inggris mungkin masalah ini tidak masalah, tapi bagi yang baru belajar mungkin akan sedikit bingung. Karena kedua kata itu sama-sama artinya "rumah" dalam bahasa Indonesia.


HOUSE lebih merujuk kepada pengertian rumah secara FISIK. 

HOME lebih merujuk kepada pengertian rumah secara EMOSI/PERASAAN. 

Kata-kata di atas ada hubungannya dengan keluarga, komunitas dan gereja. Mungkin kita akan bertanya-tanya apa hubungannya kata Home dan House dengan keluarga, komunitas, dan gereja. Bagi penulis sangat besar hubungannya. 

Kita pernah mendengar ada kalimat yang berkata: “Broken Home”, namun kita tidak pernah mendengar kalimat "Broken House", atau "House Sweet House" tapi yang benar adalah "Home Sweet Home". Kenapa demikian, seperti penjelasan di atas tadi bahwa house lebih merujuk kepada pengertian rumah secara fisik sedangkan home lebih merujuk kepada pengertian rumah secara emosi/perasaan.

Keluarga yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pondasi dalam di rumah tangga, maka di situ ada perasaan sukacita, ada damai, ada kasih, dan ada ketentraman sehingga rumah itu disebut Home, karena di dalamnya ada perasaan yang membuat orang ingin tinggal di dalamnya. 

Home bukan kos-kosan, di mana orang datang dan pergi tanpa ada interaksi. Tak heran kalau keluarga hanya menjadikan rumah itu sebagai house, maka yang terjadi adalah kekacauan. Suami lari dari tanggungjawab, istri yang selalu ingin ribut dan anak-anak lari pada narkoba. Home bukan bicara fisik aja tapi di dalamnya kita menemukan apa yang nama kebahagiaan ada interaksi dan kita terikat di dalamnya.


Mari jadikan keluarga, komunitas dan gereja sebagai home dan bukan house.


Source : 

https://artikel.sabda.org/home_amp_house

https://articlesmedia.medium.com/home-vs-house-whats-the-difference-and-when-to-use-them-c050eece75bf

Kaya tapi Miskin Hati

  Ciri-ciri orang Kristen yang suam-suam kuku: Lebih mengandalkan harta dan kenyamanan dunia daripada Tuhan.  Hidup dalam kepuasan diri, mer...