Tuesday, May 31, 2011

Mantera Ajaib untuk mengubah pasangan anda


 Setelah menghabiskan waktu berpacaran, bertunangan dan akhirnya menikah. Adakah hal baru yang kita ketahui dari pasangan kita? Ya, setelah hidup bersama biasanya kita mengenal pasangan kita lebih “asli” lagi. Dari kebiasaannya dan perilaku yang tidak kita ketahui pada saat berpacaran dan bertunangan. Proses ini wajar adanya, karena kita akan mengenali pasangan kita saat kita hidup bersama, dan melihat serta mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui saat belum hidup bersama.


Umumnya, strategi apa yang sering kita gunakan untuk mengajak kerjasama pasangan kita? Ada 4 cara klasik yang sering digunakan. 4 cara ini sering kita ulangi untuk membentuk atau membantu pasangan kita menjadi dirinya yang terbaik, tetapi cara ini adalah cikal bakal runtuhnya rumah tangga, lho? Ya cara ini, pada mulanya digunakan dengan motivasi untuk kebaikan, tetapi hasilnya bisa “blunder” bagi tiap pasangan.

Ke 4 cara itu adalah :
1. Menyalahkan dan Menuduh
Kenapa kamu selalu begitu? Ada apa denganmu sebenarnya? Bisakah kamu melakukan sesuatau dengan benar? Lagi-lagi kamu melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat! Masalahmu adalah kupingmu tidak berguna tau!

2. Memberi Label
Dasar pelupa, bawa karung saja kalo pergi-pergi! Dasar ceroboh, pelan dikit kenapa sih! Hei, tukang dandan, 5 menit ngga selesai aku tinggal!

3. Mengancam
Kamu sentuh HP ku lagi, kamu akan rasakan akibatnya! Habiskan atau kamu tidak sarapan lagi besok!

4. Menguliahi dan Memarahi
Kamu kira itu baik, jika aku sedang telepon sabar kan bisa. Aku kan ngga konsen, sudah gede masak kayak anak-anak gini saja mesti diajarin. Dulu pernah diajarin sopan santun kan? Kamu sudah ngerti kan, kalo kamu bangun kesiangan terus aku yang telat, makanya kalo malem itu tidur ngga usah nonton dvd sampe larut. Sapa yang rugi kalo gini terus?


Kita semua tahu ke 4 jurus diatas pasti berhasilnya jika digunakan dengan tepat terhadap pasangan kita, tapi sayangnya perilaku yang kita harapkan berubah tidak dapat bertahan lama. Tau kenapa? Karena semua dilakukan dengan terpaksa, dan bukan keinginan dari dalam pasangan kita (Inner Motivation), serta perilaku tersebut tidak terulang jika ada pasangan saja. Jika tidak ada pasangan kita maka perilaku lama tetap terjadi.

Apa yang terjadi jika ke 4 cara tersebut digunakan dengan dalih membantu pasangan menjadi pribadi yang baik? Hmm.. pribadi yang baik atau kita yang ngga bisa menerima pasangan kita apa adanya, sehingga dia kita paksa berubah sesuai keinginan kita?



Yah, suasana hati pasangan kita tentu penuh dengan emosi negatif. Sebab hal itu akan memunculkan perasaan–perasaan negatif, harga diri yang rendah, perasaan tidak mampu, tidak penting dan tidak berguna. Lalu, tanpa cinta dan penerimaan dari pasangan maka tidak lama lagi perilaku negatif atau situasi yang tidak kondusif akan terjadi.
Ada cara dengan pendekatan yang baru, bagaimana membuat pasangan Anda melakukan dengan senang hati apapun yang Anda inginkan dari perubahan dirinya, atau apapun demi pasangannya dengan senang hati.


Caranya adalah:
1. Membuat Pasangan Kita Merasa Penting
Semua orang dewasa ingin merasa penting dan ternyata jika memberi mereka kepercayaan dan tanggung jawab, untuk suatu tugas yang menantang pun mereka akan melakukan sesuatu dengan upaya terbaik. Penyebab pasangan kita rentan terhadap perubahan adalah adanya perasaan merasa mereka “kecil” dan tidak penting. Seakan akan mereka adalah pihak yang diinjak-injak, dijajah. Seolah-olah kalah dalam pertarungan.
Contoh: sayang, ini akan sangat membantu jika kamu membantu membersihkan kotoran ini, dan aku tau cuma kamu yang bisa kuandalkan.Honey, aku percaya kamu besok bisa tepat waktu diacara wisuda Doni ya, aku tahu kamu tidak ingin mengecewakan Doni bukan?


2. Bicarakan Perasaan Anda
Seringkali pasangan kita melakukan sesuatu yang salah karena mereka hanya memikirkan diri sendiri dan belum menyadari bahwa tindakan itu berdampak pada orang lain. Umumnya pasangan kita mencintai dan peduli dengan kita. Nah, ketika mereka menyadari betapa mereka telah menyakiti perasaan kita, mereka akan lebih bersedia bekerja sama.
Contoh: daripada mengatakan, Kamu itu gimana sih, kok pulsa telepon tiap bulan naik terus. Boros banget sih! sebaiknya mengatakan, aku yang merasa cemas dan takut, jika biaya bulanan kita selalu terpotong untuk membayar pulsa teleponmu.


3. Jelaskan Masalahnya
Dengan menjelaskan masalahnya pada pasangan kita, justru kita tidak sedang menyerang mereka. Justru kita member kesempatan kepada dirinya untuk berpikir tentang tindakan yang telah dilakukannya. Dengan demikian, pasangan kita akan melakukan suatu kebiasaan baru untuk menyelesaikan masalah.
Contoh: daripada mengatakan, Kamu itu dengar kan, anjing peliharaanmu berisik. Mau menunggu sampai dia mati? Kamu sudah janji mau merawat peliharaanmu itu kan? sebaiknya mengatakan: Say, kelihatannya puppy laper tuh.


4. Memberikan Pilihan
Pada umumnya manusia tidak senang dikendalikan (disuruh-suruh), karena ini mengganggu kebutuhan emosional mereka dalam hal kebebasan. Ketika pasangan kita tidak diberi kebebasan maka ada kecenderungan berontak atau tidak peduli. Dengan memberikan pilihan dan memberikan kekuasaan untuk memilih kepada pasangan kita maka mereka akan lebih kuat dalam melakukan sesuatu atau komitmen pasangan kita jauh lebih kuat untuk melakukan sesuatu yang baru. Trik ini untuk memberitahu mereka tentang konsekuensi pilihan pasangan kita dan itu terserah kepada pasangan kita (membuat mereka merasa penting) untuk membuat pilihan yang tepat.
Contoh: daripada mengatakan, Cepat selesaikan tugas-tugasmu, kita mau pergi kapan jika menunggumu kerja terus!!! sebaiknya mengatakan, Kapan tugasmu selesai? Kasihan Doni yang sudah berharap agar dia bisa pergi bersama kita. Aku akan menjadwal ulang kepergian kita dengan saudaraku saja jika hal ini terulang lagi, Linda anak kakakku akan menjadi teman yang baik bagi Doni, jika kamu memilih lambat menyelesaikan pekerjaanmu.


Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat untuk membantu kita semua untuk mewujudkan pasangan yang ideal dan keluarga yang harmonis, serta mudah sekali mencintai pasangan kita jika kita tahu caranya. Bagikan cara ini pada rekan dan orang-orang terdekat anda, sehingga kita hidup dilingkungan yang lebih baik dan harmonis.


Source :
http://www.timothywibowo.com/blog/mantra-ajaib-untuk-mengubah-pasangan-hidup-anda/

Monday, May 30, 2011

A Prayer For A Loved One

Lord, be his shepherd, Keep him with the flock, Watch him and tend him, Be his resolute rock. Don't let him falter, Don't let him fall, Wait with him, Father, Be there for his call. Hold his hand firmly, The path grows so steep, Wipe his tears gently, Should he start to weep. Teach him to follow, In Your humble way, Help him to walk, In Your shadow each day. Strengthen his body, Weaken his will, Should he deny You, Stay with him still. Give him Your shoulder, On which he may rest, Embrace him warmly, Next to Your breast. Please place Your hand, Upon his dear head, And give him Your blessing, As his spirit is fed. Quiet his mind, Comfort his soul, Put peace in his heart, Make his life whole. Give him a vision, Of Your tender smile, Let him feel loved, All of the while.

by Virginia A. Ellis

Saturday, May 28, 2011

Heaven or Hell?

Heaven has a place prepared for me and you
Hell is another place that has one prepared too
There is no place in-between that we can go
It's either Heaven above or Hell down below

Heaven is a place with streets paved with gold
Hell is a fiery furnace with unquenchable coals
Heaven is found with forgiveness and prayer
Hell doesn't care; it will take you as you are

We are all destined for one place or the other
There is no place in-between to run for cover
We must decide now where we intend to stay
We cannot be fence-sitters come judgment day

Source :
http://my.opera.com/damioon/blog/show.dml/4245261

Friday, May 27, 2011

God's Gift

 One day when God felt generous, He looked down at me and smiled, "Since I feel so magnanimous, I'd like to give you something, child." He asked me what I wanted, I said, "Oh, really nothing more, You've done so much already." He said, "That's what God is for." "You have been pretty good," He said, I know there's not much that you seek, I will pick a little something, Just to make your life complete." With great anticipation, I looked forward to my gift, I wondered what God had in mind, That would give me such a lift. "This gift," God said, "You realize, Bears some responsibility, So, if you accept my present, You must be willing to agree... "To offer unconditionally, A section or a part, Of more than half of you, The larger portion of your heart." "Okay, God," I answered, "Since in You, I always trust, I'll meet your obligation, In the manner that I must." To myself, I thought, wow, what a gift, For so much of me, God's asked, Now what could be so valuable, That my share was more than half? With both hands I sought my gift, I still did not have a clue, Then God put your hand in mine, And said His gift to me was YOU! 

by Virginia A. Ellis

Wednesday, May 25, 2011

Unknown Writer, Part 3

Don't write your name on sand,waves will wash it away
Don't write your name in sky,wind may blow it away
Write your names in hearts of people you come in touch with,...
that's where it will stay.....
Never lie to someone who TRUSTS you. Never trust someone who LIES to you.
I'd rather be hurt by the truth than protected by a lie.
You cannot make the same mistake twice. The 2nd time you make it, its not a mistake. Its a CHOICE.
NO ONE can change a person, but someone can be a reason for a person to change.
I'm MATURE enough to forgive you, but I'm not DUMB enough to trust you again.
GUYS: if you dont treat her RIGHT, dont be mad when another guy comes around and does YOUR job for you, and wins her heart.
 Good relationships don't just happen. They take time, patience and two people who truly want to be together.
When I give you my time, I'm giving you a portion of my life that I will never get back. So DON'T waste it :)
A heartbreak is a blessing from God. It's just his way of letting you realized he saved you from the wrong person.
Yes I miss you. I miss US. I miss having you to talk to whenever I wanted. But I know I have to move on now.
I'd rather say iloveyou than I love you because iloveyou has no spaces...no room for lies.
 Not all scars show. Not all wounds heal. Sometimes you can't really see the pain that someone else feels.
GUYS: if she puts up with you through your worst days, and still stick with you and your mistakes, DON'T LET HER GO!
Friendship + Love + Trust = a strong relationship
 Apologizing doesn't mean you're wrong or they was right, it means you value your relationship more then your ego.
You may not always receive what you WANT, but if you pray and trust in God, you'll always get what you NEED.
 Being single doesn't mean you're weak, It simply means that you're strong enough to wait for what you DESERVE.
 LADIES: beauty isn't about having a pretty face, it's about having a pretty mind, pretty heart, and a beautiful soul.
Don't find love, let love find you. That's why it's called "falling in love" because you don't force yourself to fall...you just fall.

The wedding ring goes on the left ring finger, cause that's the only finger that has a vein that goes directly to heart .

Happy moments, praise God. Difficult moments, seek God. Painful moments, trust God. Every moment, thank God.

Love is possible after friendship...but friendship is N O T possible after love. How can I be friends with someone I have so much love for?

The difference between 'like' 'love' and 'in love' is the same as the difference between 'for now' for a while' and 'forever'

I cant promise u a perfect relationship without arguments and differences. However I can promise you as long as you're trying, I'm staying.

Smiling doesn't always mean you're happy...sometimes it simply means that you are a S T R O N G person.

"Telling the truth than make someone cry is so much better than telling a lie to make someone smile.

Tuesday, May 24, 2011

6 Batu ujian Cinta



Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna? Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?

1. Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.
Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku? Jika kalian merencanakan sesuatu, adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, "Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia. - mereka yang ingin dimengerti pihak yang  lain, jangan lah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.

" Maka batu ujian yang pertama ialah:
"Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?"

2. Ujian kekuatan.
Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta.
Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani. Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian kreaktif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi.

Batu ujian kedua :
"Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita?"

3. Ujian penghargaan.
Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?", jawabnya sering sekali menjadi negatif. Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak- anakku?", gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya.

Pertanyaannya ialah:
"Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?"

4.  Ujian kebiasaan.
Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada saya. Dia sangat risau, "Aku sangat mencintai tunanganku," katanya, "tapi aku tak tahan caranya dia makan apel." Gelak tawa penuh pengertian memenuhi ruangan. "Cinta menerima orang lain bersama dengan kebiasaannya." Jangan kawin berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa kebiasaan-kebiasaan itu akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta segala kebiasaan dan kekurangannya.

Pertanyaannya:
"Apakah kita hanya saling mencintai atau juga saling menyukai?"

5.  Ujian pertengkaran.
Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu menanya kan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar - tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar bagaikan berperang. Seringkali mereka menjawab, "Ah, belum pernah, pak, kami saling mencintai." Saya katakan kepada mereka, "Bertengkarlah dahulu - barulah akan kukawinkan kalian." Persoalannya tentulah, bukan pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi. Kemampuan ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang "dibutuhkan" sebelum kawin.

Pertanyaannya:
"Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?"

6.  Ujian waktu.
Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. "Sudah berapa lama kalian saling mencintai?" Tanya saya. "Sudah tiga, hampir empat minggu," jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi. Ada baiknya untuk saling bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang atau berbahaya. Ada suatu peribahasa kuno, "Jangan kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu." Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan memberi kepastian.

Tanyakan:
"Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?"

Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang. Seks bukan batu ujian bagi cinta.
"Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, "Demikian kecilnya cinta kalian?" Jika kedua-duanya berpikir, "Nanti malam kita mesti melakukan seks - kalau tidak pasanganku akan mengira bahwa aku tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku," maka rasa takut akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu. Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat diuji. Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu saudara pergi tidur. Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak bisa tidur. Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi diri sendiri. Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian untuk cinta. Saudara menguji, sesudah itu tidak lagi mau mencintai. Atau saudara mencintai, kemudian tidak menguji. Untuk kepentingan cinta itu sendiri, cinta perlu mengekang menyatakan dirinya secara jasmaniah sampai bisa dimasukkan ke dalam dinamika segitiga perkawinan.

- N N -
WebRepOverall rating

Monday, May 23, 2011

A Time To Believe

To believe is to know that 
every day is a new beginning.
It is to trust that miracles happen, 
and dreams really do come true.

To believe is to see angels 
dancing among the clouds,
To know the wonder of a stardust sky 
and the wisdom of the man in the moon.

To believe is to know the value of a nurturing heart,
The innocence of a child's eyes 
and the beauty of an aging hand,
for it is through their teachings we learn to love.

To believe is to find the strength 
and courage that lies within us
When it is time to pick up 
the pieces and begin again.

To believe is to know 
we are not alone,
That life is a gift 
and this is our time to cherish it.

To believe is to know 
that wonderful surprises are just
waiting to happen,
And all our hopes and dreams are within reach.

If only we believe.

Author Unknown

Sunday, May 22, 2011

Footprints

 One night I had a dream --
I dreamed I was walking along the beach with the Lord, and
Across the sky flashed scenes from my life.
For each scene I noticed two sets of footprints in the sand;
One belonged to me, and the other to the Lord.
When the last scene of my life flashed before us,
I looked back at the footprints in the sand.
I noticed that many times along the path of my life,
There was only one set of footprints.
I also noticed that it happened at the very lowest and saddest times in my life
This really bothered me, and I questioned the Lord about it.


"Lord, you said that once I decided to follow you,
You would walk with me all the way;
But I have noticed that during the most troublesome times in my life,
There is only one set of footprints.
I don't understand why in times when I
needed you the most, you should leave me.
The Lord replied, "My precious, precious
child. I love you, and I would never,
never leave you during your times of
trial and suffering.
When you saw only one set of footprints,
It was then that I carried you."


by Mary Stevenson

Saturday, May 21, 2011

Cinta dimana kau berada?, By.Setitik Embun Inspirasi

Ini pertanyaan yang sering muncul dalam diri mereka yang sedang mengalami problem dalam kebersamaan atau keluarga.

Cinta seolah hilang sedangkan yang terjadi adalah bukan cinta yang hilang namun rasa ego mereka yang sedang mengambil peran dan tidak melihat keberadaan cinta.

Maka dalam bersama:
Jangan tanyakan cinta,
Jaga kepercayaan dan
Tiadakan cemburu dan curiga.

Hidup dalam kepercayaan untuk semakin memperteguh cinta.

Cinta sedang dimana kau berada?
Cinta tetap ada disana hanya mata hati Anda sedang tidak melihatnya karena ego diri Anda lebih besar daripada kerendahan hati Anda.

Selamat menemukan cinta dan menjaganya dengan kepercayaan dlam diri Anda.

Petrusp

Wednesday, May 18, 2011

Tips Motivasi Mario Teguh, Part 2

JENIS PERSAHABATAN YANG DIHARAPKAN OLEH PRIA DARI WANITA


Banyak wanita kurang mengerti mengenai jenis persahabatan yang diharapkan oleh pria darinya.

Pria memang tertarik kepada wanita yang ceria, dinamis, lincah, yang sibuk merayakan keindahan dunia, dan yang menarik tangannya untuk berlari menjelajahi padang rumput dalam tarian gembira di bawah benderang mentari.

Sekali, atau dua kali … pria akan menurut dan menggembirakan hati wanita ceria seperti itu, tapi kerinduan hatinya yang asli, adalah dimanjakan dalam kelembutan perlakuan sang wanita yang mengaguminya di atas semua kelemahannya.

Seorang pria akan menyerahkan dunia yang dikuasainya, kepada wanita yang mengetahui semua kekurangan dan kelemahannya, tapi tidak membuat penilaian apa pun; dan melihat sedikit kelebihan dan kekuatannya dengan kekaguman yang merajakan sang pria.

Wanita yang memiliki keseluruhan jiwa dan kehidupan sang pria, bukanlah wanita yang menjadikannya bermata cemerlang untuk mengalahkan dunia, tetapi wanita yang dalam kebersamaan dengannya – membuat matanya terpejam merajut impian, nafasnya membuai damai, dan terkulai pulas dalam tidur yang dalam.

Wanita, adalah penenteram kehidupan pria.

 

 

JATUH CINTA ADALAH KECELAKAAN, TAPI UNTUK TETAP HIDUP BERSAMA DALAM CINTA ADALAH KEPUTUSAN


Jatuh cinta adalah sebuah kecelakaan yang indah.

Yang keindahannya hanya bisa diperpanjang dengan persahabatan.

Anda berdua harus memutuskan untuk TETAP mencintai dalam keputusan yang sadar.

Sehingga, jika jatuh cinta itu kecelakaan, untuk tetap hidup bersama dalam cinta adalah keputusan logis.

Dengan logika yang berfokus pada kebahagiaan Anda berdua untuk masa yang panjang ke depan, Anda harus menetapkan dalam setiap saat, bahwa kedamaian adalah lebih penting daripada siapa yang benar dan siapa yang harus mengalah.

Ketegasan untuk secara logis mengutamakan kedamaian, dengan tidak memasalahkan siapa yang benar, akan cepat menyadarkan kita jika ada dari sikap kita yang menyebabkan ketidak-bahagiaan pada diri kekasih kita.

Kita harus bersedia hidup kurang dari kesempurnaan yang kita harapkan, untuk mengijinkan kekasih kita tumbuh menjadi penyempurna kehidupan kita.

Janganlah tuntutan Anda bagi kesempurnaan, menjadikannya jiwa yang terluka, yang mencacatkan kehidupan Anda.

Mengalah bagi kebahagiaan kekasih Anda adalah perilaku yang memenangkan kehidupan Anda.

Dan mudah-mudahan Tuhan memberkatkan pengertian yang sama kepadanya.

Ada dua macam orang,
yang pertama hanya
menunggu pemberian,
dan yang kedua mendesak maju
untuk mengambil sendiri....
Yang menunggu,
merasa itu adalah satu-satunya pilihan,
dan karena semua orang sibuk
mengurusi kepentingannya sendiri,
dia sering terlupakan.

Yang mendesak maju,
jumlahnya sedikit,
tapi mendapat lebih banyak.

Tapi ini semua bukan masalah sifat.

Ini masalah rasa hormat kepada diri sendiri.

Ada dua hal utama yang
membuat kita salah mengerti tentang cinta,
karena sebetulnya cinta itu tidak bersalah
dan sama sekali tak berniat untuk melukai kita.

...
Pertama, logika kita salah
saat memilih orang untuk kita cintai.

Kedua, kita mencintai orang yang tepat
dengan cara yang salah.

Marilah kita pisahkan keindahan cinta,
dari kesalahan kita dalam memilih dan mencintai.

SESUNGGUHNYA, TIDAK ADA BATASAN BAGI KITA, KECUALI KEADAAN SEMENTARA


Sesungguhnya, tidak ada batasan bagi kita, kecuali keadaan sementara yang menghalangi pencapaian dari tujuan kita, karena tidak cukupnya kualitas di dalam diri kita.


Bukan kurang besarnya tujuan yang membatasi, tapi biasanya adalah kurangnya kesungguhan, kemampuan, bantuan dari orang lain, atau kurangnya keberuntungan.


Jika kesungguhan yang menjadi batasan, Anda hanya tinggal menambah kesungguhan, dengan mematuhkan diri Anda kepada nasehat dan petunjuk yang akan menjadikan Anda seorang yang bersegera, lebih banyak bertindak, tabah menghadapi kesulitan dan kegagalan, dan menggunakan apa pun yang ada pada Anda sebagai modal.

Jika kemampuan yang menjadi batasan, Anda hanya tinggal belajar dan melatih diri untuk menjadi mampu melakukan pekerjaan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil-hasil sederhana yang terdekat, yang akan menuntun kepada hasil-hasil yang lebih besar.

Jika kurangnya bantuan dari orang lain yang menjadi batasan, Anda hanya tinggal mensahabatkan diri dengan mereka yang se-ketertarikan, yang aktif di bidang dan industri yang bisa menguatkan upaya Anda, dan membuka hati dan pikiran bagi kerjasama yang saling menguatkan dengan mereka.

Jika keberuntungan yang menjadi batasan, Anda hanya tinggal mendekatkan diri kepada Tuhan, hanya berharap kepada-Nya, patuh kepada tuntunan-Nya, dan ikhlas belajar dan bekerja bagi kebaikan sesama dan alam.

Batasan adalah keadaan sementara.



Berhati-hatilah dalam memperlakukan Wanita
Berhati-hatilah dalam memperlakukan wanita.

Wanita adalah bidadari dunia yang mewarisi kelembutan halimun,
keteduhan bayangan awan, kesejukan embun pagi, dan aroma bebungaan surga.

Tapi jika Anda melukai hatinya yang lembut itu,
langit akan pucat ketakutan dan neraka berkeringat dingin
menghadapi kemarahan wanita.

Jika wanita betul-betul marah, tidak akan ada yang bisa selamat.

Mohon jangan dicoba.

Tuesday, May 17, 2011

Persahabatan



Tak jarang kita dengar orang mengatahan "saya menikah dengan sahabat saya". Dan kita saksikan pernikahan yang langgeng. Ternyata persahabatan dengan pasangan kita memang merupakan salah satu resep pernikahan bahagia.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Menghargai perbedaan sekaligus ingin selalu bersama. Orang yang kita percaya untuk berbagi cerita dan rahasia. Tempat kita mencurahkan perasaan yang paling dalam, dan orang pertama yang kita bagi berita gembira.

Kita bisa mengomeli dan diomeli sahabat tanpa rasa sakit hati karena kita tahu dia tidak pernah bermaksud jahat. Kadang kita bertengkar dan berselisih paham, tetapi selalu berbaikan kembali. Sahabat ada di sisi kita saat dibutuhkan. Membantu, membela, mendukung, dan mendoakan. Bahkan mengingatkan dan menegur saat kita salah.

Bila sahabat ini adalah juga pasangan kita, alangkah indahnya. Ketika kobaran api cinta masa pacaran dan bulan madu mulai redup, peliharalah bara persahabatan.

Jadilah sahabat bagi pasangan kita. Dua pribadi yang saling berbagi dan saling mengisi. Saling melengkapi dan saling mengasihi.



Source :
http://www.facebook.com/notes/marriage-rebuilders/persahabatan/10150151003800822

Sunday, May 15, 2011

Iman yang Menyelamatkan



Iman yang Menyelamatkan

Dari perikop ini terdapat dua macam iman. Hanya satu yang adalah iman yang menyelamatkan. Yang satunya lagi, walaupun benar-benar iman - sesuai dengan definisi "iman" dalam istilah sehari-hari - tetapi ini bukanlah iman yang menyelamatkan. 

Tanyakanlah diri Anda: Apakah Anda memiliki iman yang menyelamatkan? Kenyataan bahwa Anda dapat bernubuat dan melakukan berbagai mukjizat tidak membuktikan bahwa Anda memiliki iman yang menyelamatkan walaupun hal itu memberi bukti bahwa Anda memiliki iman. Orang-orang Kristen zaman sekarang ini sangat perlu memahami kebenaran ini karena banyak sekali orang di dalam gereja yang memiliki iman tetapi bukan iman yang menyelamatkan. Yesus menolak orang-orang semacam ini dan berkata, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:23). 


Apa yang salah dengan orang-orang ini? Bukan karena mereka tidak memiliki iman; masalahnya, iman mereka tidak berisi ketaatan. Satu-satunya iman yang menyelamatkan adalah iman yang berisi ketaatan. Anda boleh saja percaya kepada Yesus, Anda boleh saja percaya kepada kuasa Allah sehingga Anda mampu melakukan mukjizat yang luar biasa, namun jika hidup yang Anda jalani adalah kehidupan yang mementingkan diri sendiri maka ini berarti bahwa apa yang Anda lakukan itu semua demi kepuasan pribadi Anda. Anda berjalan sesuai keinginan Anda, dan Anda sama sekali tidak menanyakan kehendak Allah. 


Satu-satunya saat ketika Anda menanyakan kehendak Allah adalah waktu Anda tersesat dan tidak tahu ke mana harus melangkah. Cara Anda berpaling kepada Allah sama seperti cara orang yang tidak percaya yang mendatangi tukang ramal. Tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bermaksud memanfaatkan Allah sebagai penunjuk jalan. Sangat banyak orang yang hidup di dalam Kekristenan semacam ini, sekalipun mereka mencari kehendak Allah, ini semua bukan karena mereka ingin mentaati Allah. 


Sama halnya dengan orang yang pergi ke tukang ramal - hal ini dilakukan bukan karena ingin mentaatinya. Anda hanya ingin tahu apa yang harus dilakukan, untuk menghindari munculnya masalah. Jadi ada banyak orang Kristen yang memiliki iman seperti ini, bukan iman berfungsi di atas dasar ketaatan.
Iman macam apa yang Anda miliki? Anda menjawab, "Saya percaya bahwa Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah Mesias, Allah yang menyelamatkan. Saya percaya bahwa Ia bangkit dari antara orang mati dan bahwa Ia mati bagi dosa-dosa saya. Saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah." Anda dapat saja mempercayai semua ini tanpa harus mentaati Kristus di dalam kehidupan sehari-hari Anda karena Anda menerima semua itu hanya sebagai suatu kejadian yang benar. (Ketaatan terhadap Kristus secara hidup tidak berkaitan dengan iman semacam ini.) Jadi bagaimana mungkin Anda dapat diselamatkan dengan iman semacam ini?


Ada banyak orang di dalam sejarah gereja yang melakukan kejahatan yang sangat memalukan nama Kristus namun mereka memegang teguh segala doktrin gereja. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan kegiatan inkuisisi yang mengerikan di Spanyol dan membunuh banyak orang demi nama Kristus. Anda pikir mereka tidak mempercayai Alkitab sebagai Firman Allah? Anda kira mereka tidak mempercayai Allah? Anda kira mereka tidak percaya bahwa Yesus Anak Allah? Apakah mereka tidak percaya bahwa Yesus telah mati di kayu salib? Mereka percaya semua itu; malahan dengan kalung salib di leher, mereka membunuh orang banyak. Ini semua benar-benar terjadi dan merupakan noda hitam dalam sejarah gereja. Sangatlah mungkin seseorang mengenakan kalung salib lalu membunuh banyak orang, dan mengira bahwa itu semua dilakukan demi Allah.


Akan tetapi janganlah Anda menganggap bahwa hanya Katholik Roma saja yang melakukan kejahatan seperti ini. Orang-orang Protestan juga melakukan hal yang sama di saat yang lain. Ingatkah Anda pada Perang Tiga Puluh Tahun? Kekejaman ini dilakukan di dalam nama Kristus. Mengapa bisa begitu? Bukan karena mereka kekurangan iman, melainkan akibat kurangnya ketaatan. Demikianlah, Yesus berkata bahwa Anda harus memiliki iman yang bekerja di dalam ketaatan jika Anda ingin diselamatkan.
Bagaimana dengan orang-orang di dalam gereja saat ini? Di dalam gereja pada masa kini ada juga orang yang melakukan hal yang sama demi nama Kristus. Tidak dengan pedang, mereka menggunakan lidah mereka untuk melakukan hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang mengecam sesama saudara sampai ke titik menghancurkan orang tersebut. Kita tidak perlu lama-lama diam di suatu gereja untuk dapat menyaksikan hal tersebut. Beberapa orang telah pergi meninggalkan gereja karena mengalami tekanan kecaman seperti ini. Lidah orang-orang ini tajam seperti pedang, dan mereka berkata, "Saya mengkritik Anda dalam rangka melayani Allah. Jadi jika saya menyebut Anda sebagai pembohong, munafik atau apapun itu, saya lakukan semua ini demi melayani Kristus." Hal ini bukan berarti bahwa gereja tidak boleh menunjukkan kesalahan dan kekeliruan Anda. Namun sebagai orang Kristen kita tidak seharusnya melakukan hal ini dengan niat menjatuhkan dan berkata, "Saya melakukan hal ini demi Kristus."


Apakah Anda sebenarnya mengasihi?

Mari kita perhatikan poin yang lain. Yesus berkata bahwa kita harus saling mengasihi, dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Apakah kita mentaati pengajaran Yesus? Apa gunanya kita berkata bahwa kita percaya kepada Yesus, tetapi tidak melakukan apa yang Ia perintahkan kepada kita? Apa gunanya jika kita tidak mengasihi dan memperhatikan mereka yang ada di sekitar kita? Dapatkah dikatakan bahwa kita memiliki iman yang menyelamatkan? Doktrinnya benar, tetapi apakah kita menjalankan hal itu? Di mana letak ketaatannya?


Pada suatu waktu, saya sedang berada di dalam sebuah pertemuan di Cambridge dan ada banyak tokoh-tokoh Kristen yang hadir di sana. Orang-orang ini namanya sudah sangat terkenal. Anda akan menemukan nama mereka di atas banyak sampul buku. Jadi ketika saya mendengar bahwa para tokoh Kristen terkemuka, yang nama-namanya saya kenal dari buku-buku, sedang mengadakan pertemuan ini, dan pada saat itu saya sendiri sedang berada di Cambridge, saya lalu mengajukan diri untuk dapat ikut hadir sebagai pendengar di dalam diskusi tersebut. Saya harus mengatakan bahwa  pengalaman ini sangat mengejutkan saya. Ketika saatnya diskusi tiba, sikap yang ditunjukkan oleh mereka pada saat saling berbeda pendapat sangat mengguncang saya. Tidak semua yang hadir di sana berperilaku seperti itu, namun jumlah mereka yang bertingkah seperti itu cukup banyak.


Tidaklah mengherankan bahwa setelah itu saya tidak pernah lagi membaca buku-buku yang ditulis oleh para tokoh Kristen yang hadir di sana saat itu. Karena bagi saya, yang penting adalah bagaimana seseorang menjalani hidupnya; orang seperti apa dia sesungguhnya. Saya tidak tertarik pada berapa banyak gelar pendidikan yang dimiliki oleh seorang Kristen; itu sama sekali bukan hal yang penting bagi saya. Akan tetapi jika berbicara adalah seorang yang hidupnya benar, maka saya akan senang mendengarkan dia. Itu sebabnya buku-buku dari orang seperti John Sung sangat berharga bagi saya.
Secara akademis (dalam hal teologia), John Sung bisa dibilang tidak ada apa-apanya; sejujurnya memang demikianlah keadaannya. Di dalam bidang kimia, ia memiliki kemampuan yang luar biasa karena memang merupakan bidang keahliannya. Namun di dalam hal Firman Allah, ia tidak pernah mengikuti pendidikan apa pun. Jadi jika dinilai dari segi akademis, tulisan John Sung tidak memiliki nilai yang berarti. Namun secara rohani, karya John Sung sangatlah berharga. Pandangan kerohaniannya sangat luar biasa. Ia dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh para akademisi, dan hal inilah yang membuat tulisan-tulisannya menjadi sangat berharga.

Itu semua kembali kepada persoalan antara iman yang berisi ketaatan dan iman yang tidak berisi ketaatan. Inilah hal mendasar yang perlu kita pahami. Keselamatan kita bergantung kepadanya. Lalu mengapa bisa ada orang yang dapat memiliki iman tanpa ketaatan? Yesus berkata ," Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (lihat Lukas 6:46). Berapa kali kita berseru, 'Tuhan, Tuhan' kepada Yesus tetapi kita tidak melakukan apa yang Ia katakan? Di dalam Yesaya 29:13 dikatakan, "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku." Buat apa kita memuliakan Dia dengan mulut kita tetapi hati kita jauh dari-Nya? Di sini kita melihat kebodohan manusia. Kita dapat melakukan hal ini kepada manusia, tetapi kita tak dapat melakukan hal ini kepada Allah. Masalahnya adalah karena kita mengira bahwa Allah itu sama seperti orang lain. Padahal tidak.


Sering kali kita tidak mengatakan apa yang ada di dalam hati kita. Sebagai contoh, karena tidak ingin menyinggung perasaan Anda, maka saya berkata, "Apa kabar? Kamu adalah sahabat saya; kita selamanya sahabat." Namun di dalam hati, saya berkata, "Semakin cepat orang ini pergi semakin baik." Kita berperilaku seperti ini karena memang begitulah watak kita. Saya kira ini adalah keadaan yang paling banyak kita temukan di dalam gereja sekarang ini. Beginilah cara kita berhubungan satu dengan yang lain. Mari kita jujur terhadap hati sendiri. Segera sesudah kebaktian, kita akan tersenyum kepada orang-orang di sekitar, dan menyapa, "Apa kabar? Apakah Anda baik-baik saja?" Akan tetapi kita tidak peduli apakah orang tersebut akan menjawab atau tidak. Sulit sekali mendapatkan ketulusan sekarang ini.


Hal ini selalu mengingatkan saya pada sebuah basa-basi gaya orang Tionghoa yang berkata, "Ni chi guo fan mei yo ah?" Artinya "Sudahkah Anda makan?" Namun jika orang yang ditanya menjawab "Belum," kita tidak akan berkata, "Mari makan dengan saya." Mungkin kita akan berkata, "Anda belum makan? Perlu saya siapkan makanan untuk Anda? Tidak? Baguslah." Di dalam banyak kesempatan, kita sering menanyakan sesuatu namun kita tidak peduli pada isi pertanyaan itu sendiri. Mungkin kita terlihat seperti orang yang peduli tetapi hati kita jauh dari itu.


Satu prinsip rohani hadir di sini. Cara Anda berhubungan dengan Allah, akan terlihat dari hubungan Anda dengan sesama manusia. Dengan kata lain, jika hati Anda jauh dari Allah, maka hati Anda juga jauh dari sesama manusia. Prinsip ini berlaku secara dua arah. Jika hati Anda jauh dari sesama manusia, maka hati Anda juga jauh dari Allah. Prinsip ini selalu berlaku di dalam kehidupan rohani. Jika Anda ingin belajar untuk mendekatkan diri kepada Allah, belajarlah untuk mendekatkan diri kepada sesama manusia di dalam lingkungan keluarga Allah. Inilah prinsip yang dibicarakan oleh Rasul Yohanes: "Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya" (lihat 1Yoh.4:20).
Kita dapat mengasihi orang yang tidak ada di hadapan kita karena kita tidak perlu memikirkan kesalahan, kekeliruan dan kekurangannya. Seperti anak-anak muda yang mengagumi idolanya, bintang film atau tokoh-tokoh lainnya. "Wah dia orang yang hebat, idola setiap anak muda!" Anda mengimpikan orang itu setiap saat. Perhatikanlah tingkah para remaja ketika bintang pujaan mereka, seperti Britney Spears atau yang lainnya, tampil ke atas panggung; mereka begitu ribut dan antusias. Anda sangat mengagumi bintang-bintang tersebut karena mereka hanya hidup di dalam imajinasi Anda. Orang-orang itu tampak sangat hebat karena imajinasi Anda menjadikan mereka tampak seperti itu. Jika Anda mendapat kesempatan untuk mengenali kepribadian mereka lebih jauh, saya ragu apakah Anda akan tetap mengagumi mereka sesudah itu. Saya pikir, sesudah lewat satu minggu Anda akan sangat terguncang sehingga Anda tidak mau lagi memikirkan tentang mantan idola itu karena Anda sudah melihat seperti apa dia dalam kehidupan sehari-hari.
Ini adalah masalah yang sering menimpa anak-anak muda di jaman sekarang, khususnya jika mereka menikah terlalu muda. Mereka kurang pengalaman dalam hidup ini dan tidak memahami kenyataan sesungguhnya dari watak manusia. Pada saat mereka jatuh cinta, di dalam benak mereka yang terlihat hanyalah hal yang baik-baik saja dari pasangannya. Makan jadi susah, tidur pun tak nyenyak, yang ada di dalam pikiran ini hanya orang itu saja. Sebulan sesudah menikah, mereka sudah mulai bertengkar karena selama ini mereka hidup di dalam angan-angan.


Apakah kasih Anda kepada Allah adalah kasih yang tulus, atau khayalan yang Anda bangun menurut selera sendiri? Anda dapat saja membayangkan seperti apa Allah itu di dalam pikiran Anda. Memang benar bahwa sebagus apapun bayangan Anda tentang Allah, tetap saja tidak dapat menyaingi keindahan Allah yang sejati. Namun bukan ini masalahnya. Yang penting adalah, di dalam kehidupan rohani, iman Anda tidak boleh ditujukan kepada sesuatu yang berupa khayalan Anda sendiri melainkan kepada Allah sebagaimana Dia adanya. Pertanyaannya adalah apakah iman Anda nyata atau cuma khayalan? Ada iman yang cuma khayalan dan ada iman yang sejati. Bagaimana kita bisa tahu bahwa satu sejati sedangkan yang satunya lagi cuma khayalan? Kita akan mengetahuinya jika iman tersebut dihadapkan pada ujian dalam kehidupan sehari-hari.
Itu sebabnya Anda dapat mengamati beberapa orang Kristen di dalam gereja yang tampaknya sangat bersemangat dan penuh kasih kepada Kristus saat Anda pertama kali ia ke gereja. Lalu setahun kemudian, mereka tidak terlihat lagi batang hidungnya. Bagaimana Anda akan mengaitkan kedua hal ini? Anda melihat seseorang yang sangat bersemangat bagi Allah, dan Anda mengatakan bahwa orang dengan pengabdian yang sangat menggebu-gebu seperti itu tentu memiliki iman yang luar biasa. Bagaimana mungkin sekarang ia berpaling dari Kristus sepenuhnya? 


Saya yakin Anda tentu pernah mengenal orang-orang seperti ini. Bagaimana kita memahaminya? Ini karena iman mereka cuma khayalan. Terdapat banyak kasus seperti ini. Saya mengenal cukup banyak orang yang bertekad mengabdi sepenuhnya bagi Kristus - hidup hanya untuk Kristus, belajar keras demi Kristus, dan di mana mereka sekarang? Mereka tidak ke gereja lagi. Mereka tidak lagi berjalan bersama Kristus. Anda mungkin akan berkata, "Aneh, bagaimana mungkin orang yang memiliki pengabdian seperti itu sekarang berubah sepenuhnya?" Jika Anda melihat hal-hal serupa itu, janganlah terkejut. Hal ini selalu terjadi di setiap masa.


Tidak ubahnya seperti sepasang pengantin muda yang menikah dalam gairah cinta yang menggebu-gebu, lalu beberapa bulan kemudian mereka sudah bercerai. Anda bertanya, "Tidakkah mereka saling mencintai satu sama lain dengan setulus hati sebelum mereka menikah?" Anda melihat mereka saling jatuh cinta. Jelas cinta mereka tulus. Anda melihat mereka saling berpegang tangan dan mata mereka berbinar-binar, seperti orang yang dimabuk cinta. Lalu mengapa dalam beberapa bulan saja mereka sudah berkelahi?


Di sinilah persoalannya. Ada perbedaan antara cinta yang tulus terhadap hal yang nyata dengan cinta yang tulus terhadap hal yang cuma ada di dalam khayalan. Perbedaan antara kedua macam cinta ini sangatlah jauh.
Jika Anda jatuh cinta - saya harap Anda jatuh dengan mata terbuka - yang terbaik adalah Anda jatuh cinta bukan dalam kondisi yang dikatakan orang sebagai "cinta buta". Lupakan cinta jenis itu karena pada suatu hari nanti ketika mata Anda terbuka, Anda akan berkata, "Saya ini jatuh cinta dengan siapa? Selama ini saya telah jatuh cinta dengan mata tertutup - cinta buta. Sekarang mata saya terbuka, saya dapat melihat lebih jelas!" Jadi, mulailah dengan mata yang terbuka. Jika Anda menjadi orang Kristen dan Anda mengasihi Allah, janganlah mengasihi Dia dengan mata tertutup. Allah tidak menghendaki cinta buta semacam ini.
Bagaimana cara kita untuk mengetahui perbedaan keduanya? Jika yang muncul adalah kasih yang sejati - kasih yang bertumbuh dengan mata terbuka - ia akan menjadi semakin mendalam dan kuat menghadapi berbagai masalah dan kesulitan yang menghadang. Kasih semacam ini tidak melemah dengan adanya persoalan. Dengan demikian Anda segera tahu bahwa Anda memiliki kasih yang benar, kepercayaan yang sejati terhadap orang lain. Jika Anda mengamatinya, setahun kemudian, pasangan dengan cinta kasih semacam ini hubungan antara keduanya tetap dekat sama seperti ketika baru menikah, jadi Anda dapat segera mengetahui bahwa mereka berada di jalur yang benar. Lima tahun kemudian, mereka menjadi semakin intim satu sama lain melebihi keadaan ketika baru menikah. Dan Anda akan berkata, "Puji Tuhan! Mereka benar-benar memahami apa arti cinta sesungguhnya!"


Dengan cara yang sama, setiap orang Kristen yang baru pertama kali datang kepada Tuhan akan memiliki iman kepada-Nya. Lima tahun kemudian, Anda akan melihat yang satu bertumbuh semakin kuat dan yang satunya lagi sudah pergi entah ke mana. Di sini Anda melihat perbedaan antara dua macam iman (dan dua macam kasih kepada Tuhan).


Apakah kita tipe yang Memberi atau Mengambil?

Bagaimana supaya dapat bertumbuh di dalam iman yang benar? Iman semacam ini membawa Anda untuk memberi diri kepada orang lain dan bukannya mengambil dari orang lain. Perbedaan antara memberi dan menerima adalah merupakan perbedaan antara kedua macam iman ini.


Itu sebabnya saya mencemaskan para pengajar yang berkata, "Terimalah Kristus sekarang juga sebagai Penyelamat Anda. Ambillah Dia." Saya tidak akan pernah berkata seperti itu. Saya selalu berbicara tentang memberi diri Anda kepada Kristus; saya tidak berbicara tentang menerima Kristus. Ini adalah perbedaan yang mendasar antara kedua macam iman tersebut.


Mengambil berarti memperoleh sesuatu tanpa perlu membayar. Dan kebanyakan pengajar gemar bermain-main dengan aspek mendasar dari cinta manusia ini. "Jika Anda percaya kepada Yesus, Anda tidak akan rugi. Anda mendapatkan Yesus di atas segalanya, seperti orang yang memperoleh bonus besar!" Pekabaran injil yang saya lakukan berlawanan dengan itu semua. Pada saat Anda datang kepada Kristus, Anda memberi segalanya bagi Dia. Bagi para penginjil yang berkata, "Mari, terimalah Kristus dan Anda akan memperoleh segalanya dan tidak akan merugi," mereka akan melihat banyak tangan yang diacungkan untuk menerima Yesus. Namun kemana perginya orang-orang yang pernah mengangkat tangan itu sesudah satu atau dua tahun? Jumlah mereka yang berpaling, menurut survei rata-rata penginjilan setahun, adalah 80%.
Bagi mereka yang datang kepada Tuhan melalui Firman Allah yang sejati, jumlah yang berpaling nyaris tidak ada. Inilah hal yang coba saya lakukan sebagai pendeta senior di gereja. Sebagai contoh, saya sudah membuktikan hal ini di Liverpool - di dalam gereja yang pernah saya layani selama bertahun-tahun. Mereka yang datang kepada Kristus bertahun-tahun yang lalu (sekitar 1970-an) masih teguh dalam imannya. Apakah hal ini karena saya lebih pintar daripada para penginjil itu? Tidak sama sekali. Saya yakin bahwa banyak  pendet yang jauh lebih pintar dari saya; mereka adalah penginjil yang lebih baik ketimbang saya. Perbedaannya terletak pada tekad saya untuk mengajarkan injil sebagaimana yang Yesus ajarkan.
Di bagian mana dalam pengajaran Yesus Anda menemukan bahwa Ia berkata, "Terimalah Aku"? Dapatkah Anda menunjukkan kepada saya ayat di dalam Alkitab yang berkata seperti itu? Sebaliknya, Ia berkata, "Barangsiapa datang kepadaKu (bukannya Aku datang kepadanya) ia tidak akan Kubuang." Dengan kata lain, Tuhan berkata, "Jika engkau datang kepada-Ku, Aku akan menerimamu kalau engkau datang dengan hati yang terbuka."
Sejak kapan seorang rakyat jelata boleh menghendaki Sang Raja datang kepadanya? Kitalah yang harus pergi ke Raja. Masalahnya bukan pada apakah kita menerima atau tidak menerima Kristus, walaupun itu tidak sepenuhnya salah. Dalam beberapa segi, kita tentu saja harus menerima Kristus. Namun yang lebih utama di dalam pengajaran Tuhan adalah apakah Dia menerima kita. Seluruh pengajaran Yesus dapat dirangkum sebagai berikut: orang yang tidak mau menyangkal dirinya demi Kristus, tidak dapat menjadi murid-Nya.


Pekabaran injil macam apa yang telah menarik Anda, menjadi seorang Kristen? Apakah Anda menjadi orang Kristen untuk mendapatkan Kristus, atau untuk memberi diri Anda kepada Kristus? Perbedaan antara keduanya sangat jelas. Sekarang, sebagai seorang Kristen, apakah Anda orang Kristen yang menerima Kristus, atau orang Kristen yang telah memberi diri Anda kepada Kristus? Jika Anda seorang Kristen yang hanya menginginkan Kristus agar dapat memanfaatkan-Nya, Anda tidak akan dapat bertahan lama di dalam menghadapi kenyataan hidup.


Dari saat kedua macam orang ini menjadi Kristen, reaksi awal mereka sudah menunjukkan perbedaan yang besar. Banyak orang yang berkata bahwa mereka dipenuhi oleh rasa sukacita ketika menerima Kristus. Mengapa tidak? Jika saya mendapatkan hadiah besar, saya pasti berbahagia.
Namun ketika saya memimpin orang-orang kepada Kristus, seringkali yang saya lihat adalah air mata yang menetes di wajah mereka. Mereka memasuki kerajaan dengan mata yang terbuka. Menghadapi persoalan dan menyadari betapa beratnya berjalan di jalan yang sempit itu. Mereka sudah melihat kemuliaan kerajaan Allah. Mata mereka telah terbuka secara rohani, namun mereka juga memahami betapa sempit dan sukarnya jalur yang akan dilalui. Dan mereka berkata kepada saya, "Saya akan memikul salib dan mengikut Tuhan sejak saat ini." Sekalipun dengan air mata yang berlinangan, mereka tetap melangkah maju. Tidak ada kepalsuan di dalam orang Kristen semacam ini. Itu sebabnya jangan terkejut jika saya katakan bahwa nyaris tidak ada orang Kristen macam ini yang berpaling dari Allah.


Saya ingin agar Anda menguji diri sendiri. Iman macam apa yang Anda miliki? Kehidupan Kristen macam apa yang sedang Anda jalani? Apakah Anda menjadi Kristen demi memperoleh segala sesuatu yang Anda inginkan, atau untuk mengenal Yesus sebagai Penguasa Anda dan Raja Semesta Alam? Tuhan akan terus memerintah sepanjang masa. Ia adalah Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Ia bukanlah hadiah dari Allah yang dapat Anda bawa pulang, lalu Anda letakkan di dalam sebuah kotak mungil berhiaskan pita merah. Allah memang telah memberi kita hadiah, namun yang paling penting berkaitan dengan itu adalah kita lalu mulai memberi diri. Inilah pokok yang paling utama. Dengan demikian Anda akan tahu apa arti menjadi seorang Kristen yang sejati.


Source :
http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/matius/texts/dua_macam_dasar.htm

Saturday, May 14, 2011

By Faith


By Faith I Pray
By Faith I praise
By Faith I Obey
And walk in God's ways
By Faith I Love
By Faith I Come
By Faith I wll Trust
In the name of Jesus

By Faith I believe in things I Cannot see
By Faith I cling to the Hope that Jesus gives me
By Faith I say  there's a Miracle around the bend
So I set my face against the wind
And learn once again
To live by Faith

I live by Faith
In the Son of God
Who loves me
And gave His life for me

Friday, May 13, 2011

Thursday, May 12, 2011

Wednesday, May 11, 2011

Doa Bapa Kami / Lord's Prayer

Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Amin.

 

Our Father, who art in heaven,
hallowed be thy name.
Thy Kingdom come,
thy will be done,
on earth as it is in heaven
Give us this day our daily bread.
And forgive us our trespasses,
as we forgive those who trespass against us.
And lead us not into temptation,
but deliver us from evil.
For thine is the kingdom, the power and the glory. for ever and ever. 
Amen

Tuesday, May 10, 2011

Kerikil Kecil



Kerikil kecil kadang tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan kita.

Namun, jika kerikil kecil itu ada di dalam sepatu kita dan kita mengenakan sepatu itu maka akan ada rasa sakit di sana, bahkan kalau dibiarkan rasa sakit itu akan menjadi-jadi dan membuat tidak nyaman seluruh hidup kita.

Maka,
kita harus membuang kerikil kecil itu dari dalam sepatu kita agar kita bisa nyaman dalam perjalanan hidup kita.

Demikian rasa amarah, kekesalan dan dendam dalam diri kita. Pertama-tama tidak akan begitu berpengaruh, namun jika dibiarkan akan sangat membuat tidak nyaman bahkan kita akan sakit karenanya.

Buang dendam, amarah dan kekesalan dalam hidup kita dan jangan biarkan kerikil kecil itu dalam diri kita.

Hidup tergantung pada Anda dan hanya anda yang bisa membuat nyaman diri Anda.

Semoga kita selalu berani membuka sepatu dan membuang kerikil hidup kita yang sering kali ada disana.

Petrusp